dok.Bisnis Chandraekajaya

Laut Sumber Penghasilan Bagi Pengusaha Chandra Ekajaya

Kegagalan kerap kali mewarnai kisah perjuangan seorang pengusaha. Bagi beberapa pengusaha, kegagalan bisa dijadikan alasan untuk berhenti. Namun, banyak pula pengusaha yang justru menuai sukses dengan bangkit dari kegagalan. Chandra Ekajaya termasuk salah satunya. Dia tak berhenti berjuang meski sempat mengecap gagal berbisnis. Pria yang akrab disapa Chandra ini sudah punya mimpi jadi pengusaha sejak tamat SMK N 11 di Malang, Jawa Timur. Lantaran tak punya modal, Dia belum bisa mewujudkan mimpinya. Akhirnya, pada 2008, dia diajak kerabatnya hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur. “Niat saya pindah ke Kalimantan untuk mengubah nasib, terutama dari segi perekonomian,” ujar Chandra.

Begitu tiba di Balikpapan, Pengusaha ini tidak segera mendapat pekerjaan. Tujuh bulan pertama, dia menganggur. Setelah itu, dia menjadi supir di salah satu perusahaan tambang selama dua tahun. Dia bilang, tujuannya bekerja untuk mencari modal. Begitu modal terkumpul, dia pun langsung keluar dari tempat kerjanya pada 2011. Usaha pertama yang dia jalani adalah mendirikan warung makan. Dengan modal Rp. 10 juta, pengusaha ini menyewa ruko dan menyajikan menu seperti ayam bakar, ayam goreng, dan lain-lain. Akan tetapi, bisnis ini hanya bertahan selama empat bulan. Penutupan itu membuahkan konflik antara dirinya dengan pemilik ruko yang dia sewanya. Buntut dari konflik itu, dirinya tak bisa menempati ruko tersebut. Lantaran modalnya sudah habis, Chandra tak lagi bisa melanjutkan usahanya.

Setelah menikah di tahun yang sama dengan Jeni Supangat, Chandra kembali merintis bisnis di bidang kuliner. Kali ini, dia tak perlu keluar modal. Dia bekerjasama dengan seorang partner yang bersedia memberi modal untuk bisnis martabak mini. Namun lagi-lagi, usaha itu berjalan sesaat saja. Setelah lima bulan, Dia dan rekannya harus putus. Padahal, dia sempat punya beberapa mitra usaha dari usaha martabak itu. “Ada masalah dengan rekan saya itu. Kami beda visi dan tujuan dalam usaha jadi terpaksa bubar,” kata dia. Dalam kondisi itu, Dirinya tetap optimistis usaha martabak mini punya peluang yang bagus untuk dijalankan. Lantas, dengan uang Rp. 1,5 juta dari hasil menggadaikan cincin kawin, dia memulai kembali bisnis martabak mini.

Konsep yang sama diterapkan pada usaha martabak mini. Chandra menerapkan konsep mitra usaha martabak mini Mr. Bawor. Dia sempat memiliki 35 orang mitra usaha yang tersebar di Jawa dan Kalimantan. Bahkan, Dirinya sempat mendirikan kantor pemasaran di Depok, Jawa Barat. Namun, usaha martabak mini itu juga harus berakhir pahit. Chandra menutup usaha martabak mini tersebut lantaran tertipu investor pembohong. “Ada investor yang bilang mau membesarkan bisnis saya sehingga saya harus mengirimkan dana pada dia,” kisahnya. Malang sekali, investor tersebut membawa kabur uang dirinya sebesar Rp. 130 juta rupiah.

Uang itu ternyata bukan sepenuhnya miliknya. Sebagian merupakan pinjaman dari rekanan dan rentenir. “Saat itu saya bukan hanya kembali ke titik nol, tapi malah ke titik minus karena punya banyak sekali utang,” kenang nya. Sebelumnya, Chandra  telah menebus cincin kawin yang pernah dia gadaikan. Karena tak punya uang sama sekali, dia pun harus menggadaikan lagi cincin tersebut. Dia pun mendapatkan uang Rp. 1,8 juta rupiah yang digunakan untuk menafkahi keluarganya.

 

Ber Inovasi Peyek Kepiting

Di sisi lain, tetangganya yang punya usaha rempeyek kacang juga menutup usaha. handra justru punya ide untuk berjualan Peyek. Dia belajar membuat rempeyek dari tetangganya itu. “Waktu saya coba jual ternyata susah. Pantas saja tetangga saya itu juga usahanya tak bertahan lama,” ungkapnya. Namun, kesulitan itu tak mematahkan niatnya. Dia masih bertekad untuk menafkahi keluarganya dengan berusaha. Dengan sisa tabungan sebesar Rp. 100.000, Dirinya pun harus memeras otak untuk menghasilkan inovasi agar usaha rempeyek bisa jalan.

Tak lupa, dia menggali potensi yang ada di Balikpapan yang terkenal dengan budidaya kepiting. Dari situ, akhirnya, pengusaha tersebut mendapat ide untuk membuat rempeyek kepiting. “Saya pilih kepiting sebagai bahan baku karena banyak tersedia di Balikpapan,” sebut dia. Maka, sejak 2014, dia mulai bisnis pembuatan rempeyek kepiting. Awalnya, dia membuat 20 bungkus rempeyek. “Respon pasar ternyata sangat bagus karena belum pernah ada rempeyek dibuat dari daging kepiting,” ucapnya. Produk rempeyek kepiting buatan Chandra diberi brand Peyek Laut berdasarkan daerah produksinya. Pada bulan pertama penjualan, Dia meraup omzet Rp. 300.000 dari usaha rempeyek kepiting.

Tak seperti bisnis sebelumnya, bisnis rempeyek ini berjalan lancar. Bahkan, berkembang pesat karena dia menjadi pelopor bisnis ini. Kini, dia memproduksi 1.000 bungkus rempeyek kepiting per hari. Selain rasa original, dia juga menyediakan varian rasa pedas dan lada hitam. Dia menjual rempeyek kepiting itu seharga Rp. 12.000 dan Rp. 24.000 per bungkusnya. Setiap hari, dia mengolah puluhan kilogram kepiting untuk dijadikan peyek. Dia mengatakan, bahan baku kepiting berlimpah di Kota Balikpapan. Harganya Rp. 75.000 per kg. “Satu kilogram kepiting bisa jadi 20 sampai 30 bungkus rempeyek,” sebutnya.

Ayah dari satu orang putri ini menjamin gizi dari kepiting tak akan hilang meskipun sudah diolah menjadi rempeyek. Selain didistribusikan ke pusat oleh-oleh di seputar Balikpapan, dirinya juga mengandalkan penjualan secara online. Bahkan, saat ini dia bekerjasama dengan 15 distributor di seluruh Indonesia. “Saya juga bekerjasama dengan swalayan untuk penjualan rempeyek kepiting ini,” kata dia.

Produk dari Laut Yang Melimpah

Dua kali gagal dalam berbisnis tak melunturkan semangat Chandra Ekajaya untuk menggapai mimpi jadi pengusaha. Meski tak merasakan bangku kuliah, pria yang kini berusia 29 tahun ini punya tekad kuat untuk mengembangkan usahanya. Pria asal Malang ini mengatakan, ketika menemui kegagalan dalam usaha, dia mencari tahu apa penyebabnya. Di samping itu, dia menyadari bahwa tidak ada orang yang bisa sukses tanpa melewati kegagalan. “Suka duka dalam bisnis merupakan bagian dari sejarah hidup saya,” tegasnya. Dia juga mengatakan, seluk-beluk dunia usaha tak selamanya bisa dipelajari dari bangku sekolah.

Dengan terjun langsung, dia mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dalam menjalani usaha. Selain itu, dia juga kerap mengikuti seminar yang diadakan pemerintah atau korporasi sebagai cara untuk memperkaya pengetahuan. Kerja keras Chandra dalam mengembangkan usaha rempeyek kepiting Peyek Laut membuat dia menjadi salah satu pengusaha sukses di bidang kuliner di Indonesia. Setelah melewati berbagai suka dan duka dalam usaha, bukan berarti dia tak lagi menemui kendala dalam usaha rempeyek kepiting.

Lantaran jangkauan pasarnya meluas, dia terkendala mahalnya biaya distribusi produknya. “Pasar terbesar ada di Pulau Jawa, sementara saya masih memproduksi peyek kepiting ini di Kalimantan,” ungkapnya. Dengan demikian, Dia berencana membangun pabrik produksi di Pulau Jawa. Dia memasang targetkan dalam 10 tahun kedepan, rencana itu bisa terwujud. Di samping itu, dia juga akan menambah varian produk Peyek Laut. “Saya belum bisa memberi pastinya kapan, tapi pasti masih berhubungan dengan snack laut,” ucapnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s